Sabtu, 13 November 2021

Cerpen "Sarjana Kayu Bakar"

Sarjana Kayu Bakar

Oleh: NadiaRF


Dibalik bilik kecil sebuah rumah kayu sederhana di sebuah desa terpencil kulihat tiupan angin kencang dengan rintikan hujan senja itu. Ia menyatu dengan deruan air suci yang jatuh dari mata kedua malaikatku. Tak ada seorangpun yang melihat ataupun mendengar jatuhnya tetesan air suci itu. Semua orang seakan menutup pintu. Entah itu karena takut atau tidak tau harus berbuat apa.

Aku yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hanya bisa menyaksikan jatuhnya air suci dari kedua mata malaikatku. Mencoba menerka-nerka, bertanya dalam diam dan mencari jawaban dalam pikiran. “mengapa mereka?”, “apa yang terjadi pada mereka?”, “apakah aku berbuat salah?”, “ataukah ada yang jahat kepada mereka?”. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul seakan mendorongku untuk menemukan jawaban dan bertindak menolong mereka. Tapi aku hanyalah anak kecil, anak bungsu dari dua bersaudara yang di pagi hari belajar, siang hari berkeliling untuk berjualan dan ketika langit senja tak lupa mencari kayu bakar. Jadi, “apa yang bisa aku lakukan?”, 

Kokokan ayam dan mentari pagi menyapa, aku terbangun dan bergegas mandi. Namun di pagi yang cerah ini tak secerah raut wajah pada kedua malaikatku. Ibu yang biasanya menyiapkan sarapan, bapak dan mas Farid yang seharusnya bersiap-siap pergi ke sawah untuk mengurus ladang dan aku yang akan pergi ke sekolah bertanya dalam hati “mengapa mereka terdiam, tidak bergegas seperti biasanya?”. 

Sepulang sekolah aku melihat truk-truk besar bermuatan batu-bata dan bahan bangunan lain masuk ke desaku dan berhenti tepat di sawah tempat biasa bapak bekerja mengurus ladang. Disana juga terlihat kerumunan warga yang menonton masuknya truk-truk besar. Aku melihat ada beberapa warga yang menangis dan marah kepada para petugas yang ada disana. Akupun melihat ibu dan bapak menangis untuk kedua kalinya. Aku mencoba bertanya kepada mas Farid “mas, ada apa ini apa yang terjadi mengapa banyak truk-truk besar disisni dan mengapa ibu dan bapak menangis?” mas Faridpun menjawab “di atas sawah dan ladang milik warga dan bapak akan dibangun pabrik besar oleh pihak swasta itu. Mereka mengambil sawah kita dengan mengklain bahwa tanah yang ada disana milik mereka, warga dan bapak marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa”. “loh kenapa dibiarkan itukan sawah milik kita?” Tanya aku kembali. “iya memang sawah itu dari dulu milik kakek kita tapi bapak tidak memiliki sertifikat tanah itu bapak belum mendaftarkan tanah itu karena biayanya yang mahal untuk mengurus surat-surat tanah itu. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi Ihsan. Selain itu pihak pabrik itu memiliki segalanya”. Jawab mas Farid. Akupun terdiam dengan setengah mengerti.

Tiga tahun berlalu, berdirilah pabrik besar diatas sawah milik keluargaku. Tiga tahun yang mengubah hampir seluruh hidup keluargaku. Bapak yang dulunya bekerja mengurus sawah dengan hasil tani yang lumayan kini beralih menjadi buruh pabrik dengan jam kerja yang padat dan upah yang tak seberapa dibanding sebelum mengurus sawah sendiri. Dan aku si pencari kayu bakar ini pun telah lulus SMA mulai mengerti mengapa semua itu terjadi. Sepanjang waktu berdirinya pabrik swasta itu. Ternyata banyak melakukan kecurangan dan melanggar hukum seperti pembuangan limbah sembarangan, upah tak sesuai ketentuan yang berlaku serta jam kerja padat yang seolah memeras keringat orang sakit.  

Apapun yang terjadi aku bertekat untuk melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Hukum demi memberantas dan mencegah kembali ketidakadilan yang menimpa keluargaku dan desa ini. Meski aku tau ekonomi keluarga yang tak memungkinkan untuk ku melanjutkan sekolah. Namun aku tetap yakin berdoa dan memohon restu ibu bapak. Denga doa dan restu ibu bapak aku lulus jurusan hukum yang aku inginkan. Akupun lulus juga dalam jalur beasiswa. Sungguh takdir allah yang membuatku menjadi yakin akan adanya perubahan.

Akupun pergi merantau jauh untuk menimba ilmu di kota orang. Hari demi hari aku lalui dengan penuh semangat dalam belajar demi mendapat gelar sarjana hukum yang aku impikan. Aku bertekat akan mengubah kehidupan keluargaku serta ingin menegakkan keadilan yang seharusnya dimiliki keluarga dan desaku. Seorang anak rantau yang jauh dari keluarga hidup di kota orang demi mencapai cita-cita yang diinginkan. Sambil belajar aku juga bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan hidup dan kuliahku. Meski dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, kedua malaikatku tetap mengirim uang saku seadanya dan tak lupa menanyakan kabar. Apakah aku baik-baik saja, apakah aku sehat, dan apakah kuliahku lancar disana. Merekalah yang mengisi semangat menuntut ilmuku. 

Dan empat tahun pun berlalu, aku lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana hukum dengan nilai Cumlaude. Akupun sangat bahagia karena bisa bekerja di instansi hukum pemerintahan. Tentu semua itu tidak dengan proses yang mudah dan singkat. Dengan semangat, ikhtiar dan berdoa tiada henti tak lupa aku yakin dengan kekuatan seorang ibu yang jauh disana tetap sampai untuk keberhasilan masa depanku. 

Satu tahun kemudian aku pulang kembali ke desa. Aku menemui ibu dan bapakku. Sesampainya disana aku tak mampu menahan jatuhnya air mata yang telah mengalir deras dipipiku. Aku melihat malaikatku kini telah semakin tua, pipi dan dahi yang mulai mengerut, rambut yang dulunya hitam sekarang mulai memutih, dan badan yang dulunya bertenaga kuat kini telah tua keronta dimakan usia. Namun tetap bekerja sepanjang hidupnya. Aku sangat senang mereka masih ada dan aku masih bisa melihat mereka. Kita bercerita tentang kondisi desa saat ini. Sungguh miris, banyak sekali yang berubah, pemandangan yang dulunya sangat hijau nan asri kini berganti bangunan pabrik yang semakin meluas, tanah-tanah dengan sungai yang berair jernih kini telah tercemar dengan limbah pabrik. Udara yang dulunya terasa segar, kini berubah terasa sesak dan berasap. Orang-orang yang biasanya berlalu-lalang pergi ke desa kini sepi karena bekerja sepanjang waktu pada pabrik. Banyak warga desa yang batuk-batuk dan terkena gangguan pernafasan termasuk ibu dan bapak. Semua itu karena akibat dari limbah pabrik yang dibuang sembarangan tanpa menuruti aturan hukum yang berlaku. 

Ya, ternyata pabrik itu memang tidak beres, mereka melakukan semua pekerjaan dengan kecurangan, mereka hanya mementingkan uang. Akupun tidak lupa dengan janjiku dulu. Aku yang jurusan hukum dan telah bekerja, akan membawa kasus ketidakadilan, kecurangan dan kejahatan yang dilakukan pabrik swasta itu ke pengadilan. Dengan segala yang aku punya aku terus memperjuangkannya. 

Dibawalah kasus pabrik swasta yang delapan tahun telah berdiri diatas kecurangan, keringat luka dan air mata pemilik tanahnya. Diketoklah palu yang menyatakan bahwa pabrik itu bersalah atas semua kesalahan yang telah dilanggarnya. Akhirnya semua yang harus kembali ketempatnya telah kembali. Ketidakadilan yang seharusnya telah berdiri delapan tahun lalu kini telah terbayarkan. Aku sangat senang karena kini perjuanganku tidak sia-sia. Anak kecil yang hanya bisa menyaksikan jatuhnya air suci dari mata kedua malaikatnya itu kini telah bisa menghapusnya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teks Pidato "Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja"

  Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja Assalamualaikum wr.wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Pertama tama mari kita panjatkan puja dan ...