Sabtu, 13 November 2021

Kebudayaan

 PETIK LAUT


Petik Laut merupakan salah satu tradisi masyarakat khususnya yang terdapat di daerah pulau Jawa. Upacara ini memiliki nama yang berbeda-beda disetiap daerah. Misalnya di Lamongan disebut “Tutup Layang”, sementara di Madura sendiri disebut “Petik Laut atau Rokat Tase”. Hingga kini masyarakat Madura masih tetap menjaga dengan baik tradisi turun-temurun nenek moyangnya. Tradisi ini biasanya digelar secara megah dan menjadi pertunjukan tersendiri bagi warga sekitar maupun wisatawan. Petik laut merupakan bentuk ungkapan rasa syukur para nelayan terhadap Tuhan atas rezeki, keselamatan dan panen hasil laut yang melimpah. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, dalam upacara petik laut ini juga terdapat ritual khusus yaitu menjauhkan malapetaka (tolak bala) dengan melarung sesajen di tengah laut. Dalam pelaksanaannya upacara ini juga memiliki tujuan yaitu memohon kepada Tuhan agar para nelayan tetap diberikan hasil laut yang melimpah pada tahun yang akan datang. Oleh karena itu, petik laut ini bisa dikatakan sebagai salah satu wujud kebudayaan, bentuk akulturasi antara Islam dan nilai lokal. Petik laut biasanya diselenggarakan sekali setiap tahun yaitu pada awal bulan Muharram atau bulan suro oleh penduduk yang tinggal di pesisir pantai.

Dalam pelaksanaannya ritual petik laut ini dipadati oleh serangkaian acara. Dihari pertama, masyakarat biasanya mengadakan pengajian di masjid dengan membaca surat yasin dan tahlil. Dihari berikutnya, dilanjutkan dengan menghatamkan Al-Quran. Dan di hari puncaknya, masyarakat menyiapkan sesajen yang akan dilarung ke laut. Sesajen tersebut disebut harus lengkap dan tidak boleh ada satupun yang kurang. Dalam sesajen tersebut terdapat berbagai hasil bumi, sejumlah perhiasan dan bermacam makanan seperti lauk-pauk yang biasa di konsumsi masyarakat, berbagai macam buah-buahan seperti apel, pisang, nanas, buah naga, kelengkeng, labu, melon, rambutan dan sebagainya. Selain itu juga terdapat nasi, ketan putih, ketan hitam dan kopi. Tak lupa tersedia juga kepala kambing, ayam berbulu hitam dan ayam berbulu putih, kemenyan dan kembang tujuh rupa. Semua isian sesajen tersebut diletakkan di miniatur perahu yang bentuknya mirip dengan perahu para nelayan yang sering dipakai untuk bekerja perahu tersebut tak lupa dihias dan biasanya terbuat dari gedebong pisang namun seiring berjalannya waktu banyak perahu hias yang terbuat dari kayu dan tak lupa diberikan ukiran-ukiran agar terlihat lebih menarik. Yang kemudian dilarungkan ke laut.

Sebelum dilarungkan ke laut, terdapat serangkaian acara. Seperti doa bersama. Selain itu karena pengeruh modernisasi, ritual petik laut semakin megah karena terdapat penambahan beberapa pertunjukan seperti orkes dan pergelaran musik. Sebelum pelepasan sesajen, puluhan perahu iring-iringan ke tengah laut. Mereka berkonvoi, memutar, dan seperti saling kejar-kejaran. Perahu yang membawa sesajen berada di barisan paling depan. Saat sesajen dilepas, kapal para nelayan akan menghampiri tempat sesajen dilepas. Banyak para nelayan yang menceburkan diri kelaut, mereka akan berebut sesajen, barang dan ada yang mengambil air laut di sekitar perahu karena diyakini mampu menolak bala atau menjauhkan dari malapetaka. Biasanya dari air laut yang diambil tersebut digunakan untuk menyiram perahu yang dalam istilah nelayan disebut ”edudus” alias ritual memandikan perahu dengan air yang diyakini sakral.

Setelah semua prosesi selesai, Petik Laut biasanya dilanjutkan dengan pertunjukan karawitan di siang hari. Menariknya pada malam hari akan ada kegiatan pembacaan “Macopat“ yaitu sebuah cerita dan kisah Nabi Muhammad SAW dengan teks Jawa dan diterjemahkan kedalam bahasa Madura dengan nada yang unik dan khas. Warga dihibur dengan menggelar kesenian khas ludruk yang sekaligus menjadi penutup dari keseluruhan rangkaian acara. Kesenian lain yang juga sering memeriahkan Petik Laut antara lain ketoprak, drum band, dan jaranan.

Dalam tradisi petik laut terdapat tiga aspek yaitu yang pertama, aspek agama. Dalam pelaksanaannya petik laut dianggap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa, karena masyarakat mendapat anugerah berupa keselamatan dan rezeki hasil laut yang melimpah dan bermanfaat bagi masyarakat. Yang kedua aspek tradisi. Dimana dalam pelaksanaannya terdapat serangkaian kegiatan acara yang secara turun-temurun dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku menurut kepercayaan setiap daerah. Dan yang ketiga aspek wisata. Dimana tradisi petik laut ini bisa menjadi sarana wisata yang bisa dinikmati wisatawan pada setiap tahun acara diselenggarakan. 

Tradisi petik laut ini selalu disambut meriah baik itu dari masyarakat sekitar maupun para wisatawan yang berkunjung. Selain untuk memperkuat tali silaturahmi, Dalam pelaksanaannya tradisi ini memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dalam hal ekonomi juga menguntungkan karena dalam lingkungan tradisi diadakannya petik laut tersebut terdapat pula pasar dadakan dimana terdapat masyarakat sekitar dan sekelompok masyarakat dari luar daerah/kabupaten yang menjual aneka dagangan seperti barang-barang, cemilan makanan dan minuman. Namun, tradisi ini juga mempunyai dampak negatif khususnya bagi ekosistem alam laut. Bila tradisi ini rutin dan terus-menerus dilakukan walaupun dalam jangka waktu yang lama, bisa terjadi pencemaran perairan laut dan sisa-sisa barang bisa mengendap di terumbu karang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Meskipun begitu, karena petik laut merupakan tradisi turun-temurun dan merupakan kebudayaan setiap daerah tentu harus tetap dilestarikan agar tidak punah dan seirirng perkembangan zaman diharapkan masyarakat bisa membuat terobosan baru untuk lebih menjaga ekosistem laut dengan menggunakan barang-barang yang mudah terurai oleh alam agar ekosistem laut terjaga dan tradisipun juga tidak punah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teks Pidato "Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja"

  Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja Assalamualaikum wr.wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Pertama tama mari kita panjatkan puja dan ...